Navigasi Web
Ritual Kepala Sekolah
Hari23#TantanganGurusiana

Ritual Kepala Sekolah

Akhirnya hari inipun tiba. Meggy menyiapkan surat dispensasi yang diminta Pak Pongki untuk diberikan di sekolah. Sampai tiga hari ke depan ada pelatihan menjelang kegiatan pekan olahraga yang akan diikutinya.

“Selamat pagi Ibu kepala sekolah,” sapa Meggy di ruangan menyeramkan itu. Setiap kali Meggy masuk ruang kepala sekolah bulu kuduknya berdiri. Info dari kakak kelas, dulu waktu masih dikepalai seorang biarawati ada siswi yang ketahuan bunuh diri. Maka setiap kali menghadap kepala sekolah, sedapat mungkin tidak di ruangan itu.

“Ya masuk!” suruh kepala sekolah sambil menurunkan kacamatanya yang plus 4.

“Ada apa Meggy?” dengan suara berat bertanya. “Kamu siswi XII IPS 8 kan.”

“Iyaaa Ibu, benar,” gadis itu masuk dengan ragu-ragu dan mata yang melirik kesana kesini. Lalu mengambil kursi di depan kepala sekolah.

“Ibu, saya mau memberikan surat dispensasi untuk mengikuti latihan gabungan bersama tim renang PON. Nafas Meggy yang tadinya sudah rileks kembali menyesak. Dia merasakan hawa dingin yang tiba-tiba merasuki ruangan. Tidak tahan dengan ketakutan ini pikiran menjadi kacau dan perasaannya menjadi gusar.

“Meggy...” Tiba-tiba ada suara memanggilnya diiringi gebrakan meja. Suara yang sangat familiar. Dia tahu betul suara siapa yang memanggilnya. Kepala sekolah!

“Jangan melamun!” kata kepala sekolah. “Jadi kapan kamu berangkat untuk latihan ini?” penuh selidik ia bertanya.

“Senin sampai dengan Rabu pekan depan.” Meggy tidak menyangkal perutnya jadi mulas saat ketakutannya memuncak.

“Tapi pekan depan kamu ujian nasional. Alternatif satu-satunya ikut ujian susulan. Kamu mau Meggy?”

Meggy menggangguk, sudah jadi pilihan di masa depannya menjadi atlet renang. Berat memang tapi resiko. Latihan dengan semangat untuk mencapai cita-citanya.

“Ya, Ibu izinkan. Dengan catatan siapkan diri kamu untuk ujian itu.” Kepala sekolah menatap Meggy dengan tajam seakan seakan tahu ketakutan dalam dirinya.

“Dengan siapa kamu kemari? Hari sudah menjelang Maghrib kok belum pulang?”

“Sendiri Bu, temen-temen tadi menunggu di perpustakaan. Tapi barusan kirim pesan di ponsel saya kalau mereka akan pulang duluan.”

Meggy berharap segera beranjak dari ruangan itu. Telinganya malah mendengar suara aneh. Tidak jelas suara apa, terdengar seperti bisikan. Ketakutannya mencapai level tingkat dewa. Perut Meggy benar mulas seperti dipelintir.

“Pulanglah dan jangan tengok tengok ke belakang!” suruh kepala sekolah memicingkan mata sebelah sambil mengambil bunga melati di bekal makanannya lalu dikunyahnya pelan-pelan.

Mata Meggy terbelalak, apa yang dilakukan kepala sekolah? Ritual seperti film film horor yang sering di tontonnya. Meggy menarik napas, mencium aroma wangi dupa, dia ingat betul karena pernah tinggal di rumah nenek di gunung Kawi. Air mukanya langsung berubah tegang. Gadis iti menelan ludah karena telah mengetahui sesuatu.

Siapakah sebenarnya kepala sekolahku itu?

Sukses Tim renang PON Jabar, raih medali! Tunjukkan prestasimu.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search