Navigasi Web
Namanya Biarawati Nine
Hari24 #TantanganGurusiana

Namanya Biarawati Nine

“Kadang pelajaran tidak hanya dari sekolah Bu, dari apapun di sekitar kita bisa belajar memaknai hidup. Kata almarhum bapak ke ibu waktu bincang-bincang di teras depan rumah.” Ibu menghela napas seakan mengerti beban berat yang disandangnya.

“Pesen bapak, ibu harus pasrah dan ikhlas dengan Allah. Bapak juga sudah seneng anak-anak sudah mentas kabeh dan bahagia,” kata -kata bapak diulang lagi oleh ibu disela-sela mengenang kepergian bapak lima tahun yang lalu.

“Bapak tidak sakit. Habis ziarah Novena dari Gua Kerep, di dalam mobil mengeluh demam. Terus ibu bawa ke rumah sakit Elizabeth. Di UGD sudah baikan.” Ibu menyakinkan pendapatnya sambil berkaca-kaca matanya bercerita di panti jompo pagi itu.

“Sudahlah Bu, biarkan bapak sudah tenang di surga. Sekarang yang masih tinggal di dunia ini terus berlomba mengejar kebaikan,” kata suster Nine biarawati cantik dari kongregasi Sang Timur itu.

“Mari Ibu, kita ke kamar kamar untuk melayani orang tua yang kurang beruntung di tinggalkan anak-anak mereka. Kemarin baru datang satu lagi, penderita kanker stadium awal. Anak laki-lakinya menitipkan kepada suster kepala.” Suster Nine menghibur wanita itu yang bernama, Bu Sri.

Panti jompo itu cukup luas. Masing-masing kamar berdampingan. Orang tua yang tinggal di situ rata rata bersih. Tiada kesan kumuh, kotor ataupun ditelantarkan. Alat alat pribadi untuk mandi dan pakaian tertata dengan rapi di lemari. Beberapa menggunakan alat bantu dengar. Dan buku-buku bacaan serta kitab suci tersusun rapi di ruangan tengah. Satu hal yang paling disukai para manula ini, saat dikunjungi Mereka langsung ke ruangan tengah untuk melihat siapa yang datang.

“Bu Sri bersyukur lho, anak-anak Ibu sangat sayang dan memperhatikan Ibu. Tidak seperti mereka, karena sesuatu hal anak anaknya tidak mau diikuti,” suster Nine kembali membuka percakapan saat memandikan nenek Aura yang lumpuh. Nenek Aura hanya diam mendengar percakapan mereka. Bu Sri terdiam, ia kadang belum bisa menerima kepergian suaminya yang begitu tiba-tiba.

Percakapan mereka dihentikan dengan kedatangan Bu Ita, “Suster, makanan sudah siap.” Suster Nine mengangguk.”Terima kasih Bu Ita. Kami bergegas ke dapur.” Bersama suster yang lain dan tim kerja sosial melayani para manula di panti jompo.

Bu Sri mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya. Dia masih membukakan mata tentang kehidupan orang lain. Banyak orang seusianya kurang beruntung ditelantarkan anaknya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search