Navigasi Web
Mr. K.Kwon
Hari32 #TantanganGurusiana

Mr. K.Kwon

Waktu tengah hari saat Intan selesai latihan fisik di gedung olahraga atletik ini. Om Shakil, papa Riana teman latihan Intan yang berambut putih dan gondrong sudah menjemput di pintu VI. “Waduh, cepetan pulang nih, ada Om Shakil. Bakalan lama kalau ketemu dia. Ada ayah lagi. Mau kerjain tugas IPA,” batin Intan.

“Siang Om, kita sudah kelar latihan fisik. Riana masih mandi bilas di dalam,” kata Intan.

“Iyo Tan, suwun infone. Om Shakil mau kasih kamu rujak cingur, panganen yo! Kapan-kapan balik ke Sidoarjo bareng Riana mangan lontong Kupang,” kata Om Shakil mbek guyon namun serius. Tapi Intan harus menunggu lebih lama untuk pulang rumah setelah Om Shakil ketemu dengan ayah, beneran malah cangkruk lama. Obrolan mereka sampai kedengaran, biasa tentang Mr. K.Kimwon, manager di perusahaan Om Shakil dan ayah, orang Jepang.

“Ngerti gak Pik, Mr.K.Kwon ngomong ngene mbek aku,” kata om Shakil kepada ayahku dengan panggilannya Pik dari nama ayahku Toupik. Gayane nyleneh, menirukan gaya maupun logat Mr. K. Kwon dengan suara buantereee pool!

“Saya baru tahu, dan ini pembelajaran buat saya. Menilai karakter seseorang tidak mudah, terkadang apa yang saya pikirkan berubah 180 derajat,” kata Mr. K. Kwon dengan dialek Jepang ke Indonesian-an sembari membuka kemasan permen. Om Shakil masih tirukan kalimat yang diomongkan Mr. K. Kim. Padahal setahuku, Om Shakil sangat mengidolakan Mr.K.Kim karena pekerja keras, jujur dan bonus sesuai dengan kinerjanya. Kata yang terakhir itu, Intan setuju sekali. Bonus. Yupz bonus!

“Semua bisa diatasi Mr. Shakil dengan membaca pikiran masing-masing. Untuk tujuan bersama.”

Om Shakil masih melanjutkan ceritanya. Nyerocos Bae.

“Lalu aku mbek Mr. K.Kim melanjutkan diskusi di meja meeting sebelum teman-teman yang lain datang,” katanya pada Ayah Toupik.

“Contoh sepele saja, mengatur kecepatan conveyor. Jika ada dua operator sebaiknya standar kecepatan SOP. Jika lebih dua operator kecepatannya lebih dong agar targetnya terpenuhi.”

Mr. Shakil sudah paham kah?”

“Dia bilang nguno mbek aku Pik. Rumongso gak ruh bekne?!” hahahaha. Ayahku yang dari tadi diam akhirnya bicara.

“Lhah terus awakmu yo opo lho, komentar gak?”

“Yo aku mangut-mangut tanpa menyanggah argument Mr.K. Kwon, sebagai manager di pabriknya. Wong bener je!” kata Om Shakil.

Sebelum Om Shakil meneruskan obrolan dengan ayah Toupik, ku geret lengan ayah.

“Ayahhh, uwis ta. Intan arep nggarap PR yo. Muleh sik. Bilang sama Om Shakil,” ajakku pada ayah.

Seperti dapat angin segar, secepat kilat ayah langsung berpamitan sama Om Shakil. Intan, dewi penyelamatku. Kapan maneh isok ucul seko Shakil😄

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search