Navigasi Web
Lelahnya Sopir Komandan
Hari21 #Tantangangurusiana

Lelahnya Sopir Komandan

Senja semakin berwarna lembayung ada kekhawatiran tersendiri untuk menjemput ibu pejabat itu. Sebenarnya Lusi sedikit keder jika harus menjemput dan menemani istri orang nomor satu atasan suaminya. Dan harus menemani selama tiga hari di kediaman tamu kantor. Tapi mau dikata, itu perintah Ibu Komandan.

“Ayo merapat di VIP room semua sudah standby,” suara tegas itu ada di pesan suara grup Merak 1. Si burung baja pesawat Hercules yang mengantar rombongan sudah terlihat landing di pacuan landasan pesawat. Pintu terbuka terlihat rombongan tamu mulai menuruni tangga. Di bawah tunggu sudah disambut jajar barisan pejabat. Cipika cipiki, berjabat tangan dan mempersilakan istirahat sebentar sebelum melanjutkan rute kunjungan kerja ke batalion.

Alunan musik instrumental mengalun diantara denting sendok garpu dan suara bercakap menikmati coffe morning di ruangan VIP room.

“Bu Lusi, datang kemari,” panggil Bu Barkah.

“Siap Ibu, arahan.” Dengan sigap Lusi datang menjumpai Ibu Komandan.

“Tolong tanyakan ke Pak Yoyon apa mobil yang membawa tamu dari Jakarta sudah siap,” perintah wanita itu.

“Baiik saya tanyakan,” Lusi beranjak dari posisinya berdiri menuju luar ruangan.

“Kemana pak Yoyon?,” matanya memutar ke seluruh penjuru tempat parkir. Harusnya ada standby di sini, kemana pula dia, pikir Lusi. Diambilnya ponsel dari saku baju.

“Hmmm kemana ya pak Yoyon, bisa panjang urusannya jika tidak ketemu.”

081345671423 nomor telepon itu begitu dihapal, karena setiap hari bersinggungan dengan segala keperluan ibu komandan batalion. Yah baik mengantar anak sekolah, urusan kantor, urusan ibu ibu anggota, menjenguk orang sakit maupun urusan logistik.

Berkali kali nomor pak Yoyon ditelepon, namun tidak diangkat. Entah kemana bujangan satu itu, sopir ibu komandan. Yang terdengar dering lagu Tulus, Sepatu.

“... kusenang bila diajak berlari kencang. Tapi aku takut kamu kelelahan. Ku tak masalah bila terkena hujan, tapi aku takut kamu kedinginan.

“...kita sadar ingin bersama, tapi tak bisa apa-apa.”

Akhirnya Bu Lusi mendatangi mobil berplat satuan itu diujung landasan parkir. Semakin mendekati kendaraan itu napasnya terasa sesek. “Huh karena jarang olahraga,” keluhnya sambil mendekati kaca mobil yang terlihat gelap. Bu Lusi mengintip lalu mendekatkan matanya ke kaca mobil itu. Semakin lama bibirnya tercekat, bola matanya membesar, lalu lambat laun bibirnya menganga. Dan...

“Pak Yoyonnnnn!...,” teriakan dengan kekuatan super terdengar sampai membangunkan makhluk berbaju loreng di dalam mobil.

Kaca mobil terbuka.

“Iya Bu Lusi ada apa??..” dengan ekspresi tak bersalah.

“Saya tidur, capek. Lelah Bu. Sambil mengusap keringat dan air liur di bibirnya.”

Lusi semakin tak berkutik, mau marah bagaimana diam juga keterlaluan. Lalu...

“Segera bersiap, tamu sudah mau berangkat ke lokasi Pakkkk!!...” giginya merapat, dadanya naik turun. Kepalanya sudah cenut cenut.

“Oh siap Bu Lusi. Maaf ya Bu,” kata Pak Yoyon sambil cengar cengir.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search